Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Kamis, 27 Februari 2025
Sir 5:1-8
Mzm 1:1-4,6
Mrk 9:41-50
Jangan Menyesatkan!
“Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.” – Mrk 9:42
Saat itu, anak saya yang bungsu sedang membeli jajanan di dekat sekolah ketika ia didatangi oleh seorang pengamen dengan kostum Ondel-Ondel yang membawa kantong permen untuk meminta uang. Dari mobil, saya melihat anak saya memberi uang lima ribu rupiah. Sesampainya di mobil, saya menegur anak saya, “Mengapa kamu memberi dia uang lima ribu rupiah? Seharusnya dua ribu saja cukup apalagi tadi mami juga sudah memberinya dua ribu.” Anak saya dengan polos menjawab bahwa ia tidak tahu kalau maminya sudah memberi uang pada pengamen itu. Pada saat itu sebenarnya terjadi pergolakan di batin saya apakah tindakan saya ini merupakan tindakan yang benar atau tidak. Saya merasa khawatir jika apa yang saya lakukan bisa menghalangi niat tulus anak saya yang tergerak oleh belas kasihan untuk membantu pengamen tersebut. Di sisi lain saya ingin anak saya belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu harus bekerja keras apalagi jika masih muda/sehat.
Pengalaman tersebut akhirnya menyadarkan saya bahwa saya sebagai orang dewasa seharusnya menjadi contoh pelaku Firman Tuhan. Dalam konteks sharing saya ini berarti saya seharusnya menjadi contoh dalam melakukan perbuatan baik dan memuji tindakan anak saya yang penuh belas kasih daripada mengomelinya.
Tuhan tidak ingin ada domba-Nya yang hilang, dan melalui Firman-Nya hari ini kita diingatkan, agar dalam setiap tindakkan lebih hati-hati sehingga tidak menjadi batu sandungan atau menyesatkan iman orang lain kepada-Nya. (Yy)
Apakah Anda pernah memberi contoh/saran tidak baik kepada orang lain yang membawanya menjauh dari Firman Tuhan?
No responses yet