Looking back to quarter 4 of 2021, a lot of things happened to me. Di antaranya adalah kehilangan papa, namun juga menjadi salah satu pendorong motivasi saya untuk mau belajar hidup lebih sehat dibanding hanya mengejar tuntutan dunia dan rutinitas semata.
Di periode itu jugalah saya mengenal program yang bernama “Eating Reorder” dan mengikuti jejak suami saya mengadopsi program tersebut ke dalam kehidupan kami. Bonus dari program mengubah mindset terhadap “eating” atau “makan” ini adalah kehilangan sekitar 15 kg berat tubuh saya. Seumur hidup, saya, yang selalu memakai ukuran celana L atau XL, ternyata menemukan kalau tubuh original saya berukuran S.
Singkat cerita, karena mindsetnya yang diubah dan bukan hanya “diet sementara” kami berdua berhasil mempertahankan gaya hidup kami (dan juga berat badan) secara umum sampai bertahun-tahun. Namun, sejak pertengahan tahun lalu, semangat kami rasanya mulai kendor. Gaya makan kami mulai kembali tidak terkendali, dan terlihat pula dari perubahan berat kami. Beberapa pakaian rasanya mulai sesak.
Di awal tahun ini, kami berdua memutuskan melakukan “refresh” atas eating mindset kami, dengan menjalani kembali program ini. Program yang sekarang, dibandingkan dengan yang dulu rasanya lebih tertata rapi, seiring semakin banyaknya coach dan juga organisasi yang mengurus program tersebut. Disini saya mengenal istilah baru yang bernama “Identity Walk” dimana dari minggu ketiga program, kami diajak untuk jalan kaki satu jam sehari sambil mendengarkan recording dari suara kami sendiri tentang identitas yang mau kami adopsi dalam hidup kami selanjutnya, misalnya sabar, ikhlas, dan positif.
Program ini masih on going sampai detik ini, namun “Identity Walk” ini mengingatkan saya akan pentingnya saya untuk terus berefleksi, bertanya kepada Tuhan akan nilai-nilai yang Ia ingin saya terapkan dan jadikan kebiasaan dalam hidup saya. Saya merasa inilah salah satu langkah praktis dalam hidup untuk berjalan menuju “kekudusan”.
Apabila waktu kita telah habis di dunia, pada saatnya nanti, identitas seperti apakah yang kita akan tinggalkan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang di sekitar kita? Langkah apakah yang sudah kita usahakan hari ini untuk menuju kesana?
Sahabat, marilah kita menyediakan waktu sejenak hari ini untuk memikirkan kondisi kita secara pribadi dengan Tuhan. Bukan hanya untuk menjadi “lebih baik” setiap hari di mata dunia, namun juga menjadi “lebih baik (kudus)” setiap hari di mata Tuhan.
1 Peter 1:13-16 “Therefore, with minds that are alert and fully sober, set your hope on the grace to be brought to you when Jesus Christ is revealed at his coming. As obedient children, do not conform to the evil desires you had when you lived in ignorance. But just as he who called you is holy, so be holy in all you do; for it is written: “Be holy, because I am holy.”
(LGA)
No responses yet