Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Kamis, 21 Mei 2026
Kis 22:30; 23:6-11
Mzm 16:1-2a,5,7-11
Yoh 17:20-26
Hidup Dalam Kasih
Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. – Yoh 17:21
Konflik tidak selalu dimulai oleh sesuatu yang besar. Bisa pula dari hal sederhana yang tidak diselesaikan dengan baik, lalu konflik menjadi besar. Terdapat asumsi pribadi, kesalahpahaman, tersinggung, hingga sakit hati. Kecewa mendapat teguran lalu berniat mengundurkan diri dari pelayanan. Perbedaan pendapat dianggap sebagai perlawanan. Dan lupa bahwa tujuan utama dalam berkomunitas adalah untuk memancarkan KASIH TUHAN.
SADARLAH bahwa kita adalah pribadi yang tidak sempurna. Kita hadir untuk saling melengkapi dan menutup kelemahan satu dengan lain. Lewat perbedaan, kita belajar bertumbuh dalam iman dan kasih. Memupuk persaudaraan dengan telinga yang mau mendengarkan daripada mulut yang berkomentar lebih cepat. Belajar mengampuni dan memulihkan relasi.
Saya pernah mengalami konflik dengan salah seorang dalam tim pelayanan. Lalu saya mengajaknya mengobrol untuk menyamakan persepsi, kemudian membangun relasi yang lebih dekat dengannya. Dengan sikap rendah hati, saling terbuka dan memaafkan, hubungan kami menjadi akrab. Akhirnya kami menjadi sahabat yang saling mendukung dan menguatkan di dalam pelayanan.
Mahatma Gandhi berkata,” Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus Anda. Tetapi saya tidak suka dengan orang Kristen” Kutipan ini mengingatkan kita untuk menjadi pribadi yang memancarkan kasih Kristus, pembawa damai sejahtera serta sukacita bagi sesama. Memancarkan KESATUAN dalam Kristus.
Bunga mawar tidak berkhotbah. Ia cukup menebarkan wanginya. Aroma itu adalah khotbah terbaik. Harum ketulusan serta tindakan nyata menjadi kesaksian hidup. (TL).
Bagaimana aku bisa tetap hidup dalam kasih sekalipun berbeda pandangan?
No responses yet