Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Rabu, 15 Juli 2026
Pw St. Bonaventura
Yes 10:5-7,13-16
Mzm 94:5-10,14-15
Mat 11:25-27
Fokus
Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya, atau gergaji membesarkan diri terhadap orang yang mempergunakannya?… – Yes 10:15
Hari ini Gereja memperingati Santo Bonaventura, seorang teladan dalam kerendahan hati. Ia dikenal sebagai teolog dan filsuf besar, sekaligus Pemimpin Umum Ordo Fransiskan, yang dijuluki Doctor Seraphicus. Keistimewaannya terletak pada kemampuannya menyatukan kecerdasan intelektual dengan kedalaman hidup rohani. Bagi Bonaventura, belajar bukan sekadar mencari pengetahuan, melainkan jalan untuk semakin dekat dengan Allah. Ia memandang Kristus yang disalibkan sebagai sumber segala hikmat. Dalam hidup Santo Bonaventura, ia sering menangis haru saat merayakan Ekaristi. Air matanya bukan karena kelemahan, tetapi karena rasa hormat dan cinta yang begitu mendalam kepada Tuhan. Ia sungguh mengalami bahwa setiap perayaan Ekaristi adalah perjumpaan nyata dengan Kristus.
Lalu, bagaimana dengan kita? Ketika kita memperoleh banyak pengetahuan, baik secara akademis maupun rohani. Apakah semua itu membawa kita semakin dekat kepada Allah? Ataukah justru membuat kita merasa lebih hebat dari orang lain? Pengetahuan seharusnya menuntun kita pada kerendahan hati, bukan kesombongan. Demikian pula dalam Ekaristi. Apakah kita sungguh hadir dengan hati yang fokus dan hormat? Atau justru pikiran kita mudah teralihkan pada hal-hal lain seperti makan apa setelah misa, rencana apa setelah misa, kesibukan kita dengan ponsel, atau bahkan sibuk menilai orang lain ataupun pelayan altar? Tanpa sadar, kita kehilangan makna terdalam dari perayaan itu sendiri. Tidak heran jika ada yang merasa tidak mendapatkan apa-apa dari misa, lalu menyalahkan homili atau suasana. Padahal, bisa jadi hati kita sendiri tidak sungguh terbuka.
Melalui teladan Santo Bonaventura, kita diajak untuk berbenah. Marilah kita belajar rendah hati, memusatkan perhatian, dan menghormati Tuhan, terutama dalam Ekaristi. Dengan demikian, setiap perjumpaan kita dengan-Nya sungguh menjadi sumber rahmat yang mengubah hidup kita. (In).
Allah Bapa, ampuni kami yang sering tidak hormat kepada-Mu, terlebih dalam perayaan Ekaristi.
No responses yet