Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Sabtu, 17 Januari 2026
1 Sam 9:1-4,17-19: 10:1a
Mzm 21:2-7
Mrk 2:13-17
Pw St. Antonius, Abas
Bertobatlah
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” – Mrk 2:17
Saya sering mendengar ungkapan kalimat bahwa Gereja adalah tempatnya orang berdosa. Saya setuju dengan pernyataan tersebut, karena memang tidak ada satu manusia pun yang luput dari perbuatan dosa.
Saya teringat dengan seorang teman, ia adalah anak baik, takut akan Tuhan dan ia pun sangat tekun pelayanan. Namun, beberapa tahun belakangan saya mendengar bahwa ia tidak ke gereja lagi, alasannya bukan karena kesibukan, namun karena ia merasa hidupnya baik-baik saja, tidak kurang satu apapun, sehari-hari hidup dengan rutinitas yang lancar sesuai keinginannya, jadi untuk apa bersusah payah pergi ke gereja.
Saudara terkasih, saya sangat yakin tanpa ia mengatakan pun, pasti ada ruang hatinya yang kosong, ruang yang hanya dapat diisi oleh Kasih Allah, meskipun mulutnya selalu berkata semua baik-baik saja. Dan saat ada moment kami bertemu, saya pun terus mencoba mengingatkan agar ia kembali ke gereja dengan gaya bahasa bercanda saya. Saat kami hendak pulang, kami berpelukan sebagai salam perpisahan, dari lubuk hati yang terdalam, saya pun membisikan ke telinganya suatu kalimat “please, kembali ke Gereja”. Ia tertegun pada saat itu, karena saya berulang kali mengingatkannya tentang gereja. Setelah pertemuan itu kami belum bertemu lagi sampai saat ini, saya berharap hatinya terusik dengan teguran saya tersebut, dan kemudian kembali kepada Tuhan seperti yang seharusnya.
Saudaraku terkasih, meskipun tekun ibadah ke Gereja bukan jaminan seseorang itu memiliki sikap hidup Kudus, namun jika tidak ke gereja bagaimana kita dapat menerima Sakramen Maha Kudus yang sangat berguna untuk membantu menyegarkan iman dan jiwa kita? Jika jiwa kita segar, kita akan tergerak untuk mencari Tuhan dengan lebih lagi, merasakan kembali haus dan lapar akan perjumpaan pribadi dengan-Nya, dan kemudian masuk di dalam pertobatan. (In).
Seberapa dalam rasa haus laparku kepada Allah?
No responses yet