Renungan Katolik “Bahasa Kasih”

Minggu, 18 Januari 2026

Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen

Yes 49:3,5-6

Mzm 40:2,4ab,7-10

1 Kor 1:1-3

Yoh 1:29-34

Bersaksi dengan Kasih-Nya

Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. – Yoh 1:33b

Yesus dan Yohanes sama-sama diutus Allah mewartakan kabar keselamatan dengan cara membaptis orang-orang. Yang menjadi pembeda adalah Yohanes membaptis dengan air, sedangkan Yesus membaptis dengan Roh Kudus. Dan keduanya juga sama-sama bersaksi tentang jalan kebenaran menuju Allah, mengajak orang untuk bertobat kembali kepada Allah penciptanya. Bagaimanakah dengan kita, apakah kita juga menerima utusan yang sama dari Allah? Yaaa.. kita pun menerima perutusan tersebut dan di perintahkan untuk bersaksi. Namun sebelum kesaksian itu kita laksanakan, kita harus bertobat terlebih dulu, kembali menjadi anak-anak Allah yang selalu haus hidup dalam kebenaran-Nya.

Setiap orang memiliki peluang dan cara untuk bersaksi, sesuai dengan panggilan masing-masing, yang tentu harus diiringi dengan kemauan untuk masuk ke dalam tim-nya Allah. Dan mari kita sadari, bahwa kesaksian yang satu dengan kesaksian yang lain nilainya sama dihadapan Allah, dengan catatan kesaksian yang dilakukan benar- benar untuk-Nya. 

Baik itu kesehariannya sibuk dengan pelayanan, ataupun yang sedikit mengambil bagian dalam sebuah pelayanan pun juga baik adanya. Yang membedakan adalah apakah hati kita sungguh-sungguh untuk Tuhan? Ataukah masih sering membiarkan pikiran-pikiran liar berseliweran (sekedar isi waktu, menyalurkan hobi, atau butuh validasi dari orang lain, dan sebagainya).

Saudara terkasih, bersaksi tentang kebaikan Tuhan adalah ungkapan bagaimana kita mencintai Allah, bagaimana kita dapat mencerminkan pribadi-Nya yang penuh kasih, murah hati, pengampun. 

Jadi… inti dari kesaksian bukan sekedar soal apa yang kita kerjakan, berapa banyak kebaikan yang kita lakukan, namun lebih kepada bagaimana kita dapat membawa jiwa kita masuk ke dalam persekutuan dengan-Nya, saat berpelayanan/memberikan kesaksian, sehingga kita dapat sungguh menyentuh jiwa yang kita layani/bantu. Dengan demikian orang yang kita layani/bantu juga dapat sungguh mengalami kehadiran kasih Allah melalui kita. (In).

Jadilah saksi Kristus yang menggambarkan pribadi-Nya yaitu Kasih.

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *