Renungan Katolik “Bahasa Kasih”

Selasa, 25 Februari 2025

Sir 2:1-11

Mzm 37:3-4,18-19,27-28,39-40

Mrk 9:30-37

Malu Bertanya

Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. – Mrk 9:32

Sudah kedua kalinya Yesus menyampaikan kepada murid-muridNya tentang penderitaan dan kematian yang akan Ia alami, namun ternyata mereka masih belum dapat memahami perkataan Yesus tersebut. Dan sayangnya, ketidakpahaman mereka tidak diikuti dengan keinginan untuk bertanya lebih lanjut. Mereka segan untuk bertanya, mungkin karena gengsi, takut dianggap tidak mengerti, atau mungkin mereka sudah memiliki persepsi sendiri tentang Yesus sebagai Mesias dan tidak ingin persepsi mereka diganggu gugat, atau bisa juga mereka merasa takut kecewa dengan jawaban yang akan diberikan Yesus. 

Saya pun pernah mengalaminya. Saya begitu enggan mengajukan pertanyaan dalam suatu seminar atau kegiatan retret, padahal sebenarnya saya begitu ingin mengetahui jawabannya. Karena malu bertanya, akhirnya saya menjadi kepikiran sendiri karena tidak mendapat jawaban atas pertanyaan saya. 

Apa yang saya alami membuat saya merenungkan dan menyadari bahwa ternyata bertanya juga membutuhkan kerendahan hati. Mengapa? Pertama karena saat kita berani untuk bertanya artinya kita mengakui bahwa diri kita masih tidak mengerti dan membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Seperti yang saya alami, kadang banyak orang yang merasa gengsi atau malu untuk bertanya. Kedua, kita harus siap menerima apapun jawaban dari pertanyaan kita meskipun mungkin jawaban atas pertanyaan kita tidak sesuai dengan harapan atau keinginan kita.

Janganlah malu untuk bertanya, terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan iman atau pemahaman mengenai Firman-Nya, bertanyalah; misalnya kepada Romo, katekis paroki, atau mereka yang memiliki pengetahuan lebih daripada kita. (Vn).

Apakah aku memiliki kerendahan hati untuk bertanya tentang sesuatu yang belum jelas bagiku?

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *