Hari ini adalah hari raya pembaptisan Tuhan Yesus, mengakhiri masa natal. Di masa natal kemarin ini, anak saya yang berumur hampir 7 tahun bertanya kembali kepada saya, “Mom, is Santa Claus real?” Di natal sebelumnya, hanya untuk kesenangan saja, saya berpura-pura kalau Santa benar-benar memberi dia kado. Namun kali ini, saya merasa ia sudah sangat lebih dewasa dan banyak belajar hal-hal baru. Saat yang tepat untuk menceritakan kepadanya hal yang sesungguhnya.

“Santa Claus tidak real. Saint Nicholas is real”.
“So, who gave us the presents during Christmas?” tanya nya lagi.
“Your parents,” jawab saya.
Wajahnya mengekspresikan kaget, tapi saya bersyukur memberi tahunya sekarang. Karena keterus terangan ini, saya tidak perlu pusing berpura-pura menjadi Santa Claus. Saya juga sebenernya sudah membelikan beberapa kado Christmas, yang akhirnya bertransformasi menjadi tambahan kado ulang tahun nya di awal Januari. Saya senang melihat dia bisa semakin menghargai orang tua nya dibanding orang yang ia tidak kenal.

Di Christmas ini, kami juga mengalami the real “Santa Claus” hadir dalam kehidupan kami. Kami berlibur ke Esperance saat natal. Kami sudah ke gereja saat Christmas Eve, dan memutuskan untuk ke Wharton Beach tanggal 25 Desember, pantai terindah menurut keluarga kami sejauh ini, satu jam perjalanan dari Esperance. Sepulang dari Wharton beach, mobil kami berpapasan dengan mobil yang lebih besar. Karena jalan nya agak sempit, kami minggir sedikit ke kiri. Tidak disangka beberapa detik kemudian ada bunyi dari roda mobil kami. Kami segera berhenti mengecek dan ternyata ban mobil depan kami kena paku! Pakunya bukan seperti yang ditebar di Indonesia yang sangat panjang, tapi seperti spare part roda kecil yang copot dari salah satu barang. Kami berdoa dan berharap siapa tahu roda kami baik-baik saja.

Puji Tuhan, roda kami baik-baik saja sampai kami di tempat camping. Tidak disangka-sangka, setelah saya masak di kitchen camping park, roda mobil kami tersebut gembos segembos-gembosnya. Paniklah kami, tapi di saat yang sama, saya mengingatkan suami saya untuk bersyukur karena kami masih punya satu hari lagi, tanggal 26 Desember, untuk menyelesaikan masalah ini. Tidak terbayang kalau ban kami pecah tanggal 26, berarti keesokan harinya rencana kami pulang ke Perth tanggal 27 Desember bisa berantakan.

Suami saya belum biasa menambal ban sendiri, maklum kami baru 3 tahun di Perth, masih belajar untuk mengerjakan sendiri hal-hal yang biasanya tinggal panggil tukang di Indonesia. Kami segera mencari tempat jual ban, tapi semua tutup sampai Senin tanggal 30 Desember, karena itu adalah long weekend setelah Christmas dan Boxing day dilanjut weekend. Puji Tuhan ada satu tempat jual ban bisa membantu, namun biaya untuk membuka tokonya saja $150 belum sama biaya jasa tambal ban atau beli ban baru.

Sambil berdoa, kami memutuskan untuk menunggu sampai besok pagi, untuk mengecek langsung ke daerah bengkel, siapa tahu ada toko lain yang buka sehingga tidak perlu membayar extra $150. Keesokan paginya, suami saya mengganti dengan ban serep dan pergi ke daerah bengkel. Dia pergi sendirian, saya dan mama dan anak-anak menunggu di tempat camping, sehingga muatan mobil nya minimum.

Setelah sekitar satu jam, suami saya kembali membawa cerita pengalamannya bertemu “the real Santa”. Semua toko tutup. Ketika ia berkeliling mencari tempat yang buka, seseorang pria yang sedang mengendarai mobil besar 4WD berhenti menghampiri dan bertanya, apakah ia membutuhkan bantuan. Singkat cerita, pria ini membantu menambal ban, memompa ban, sampai mengecek dengan air sabun setelah menambal untuk memastikan tambalannya sudah baik. Tanpa meminta biaya apapun. Dan singkat cerita berikutnya, ban tersebut masih kami gunakan sampai saat ini.

Kami sangat bersyukur atas peristiwa ini, dan memuji Tuhan untuk Ia yang menyediakan bagi keluarga kami, melalui perantaraan seorang pria yang menjadi Santa Claus bagi kami di natal kali ini.

Phillipians 4: 19-20And my God will meet all your needs according to the riches of his glory in Christ Jesus. To our God and Father be glory for ever and ever. Amen.
(LGA)

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *