Kamis lalu, saya mengikuti coaching ke sembilan dari program makan Eating Reorder. Saya merasa sangat lega dan bersyukur, akhirnya saya hampir menyelesaikan program ini untuk yang kedua kalinya.
Flash back ke lima tahun lalu, waktu itu kami masih di Jakarta, sedang menyewa rumah di Jakarta Garden City, rumah cantik yang kecil mungil bersama kedua anak perempuan kami: satu masih bayi, satu lagi usia tiga tahun. Masa sewa kami sangat singkat, hanya enam bulan, karena beragam kejadian besar yang segera terjadi pada hidup kami. Di masa-masa itulah kami mengalami pertama kali mengetahui kondisi papa yang ternyata sudah sakit berat tidak pernah terlihat, mendoakan papa selama operasi di Malaysia, melihat papa berangsur menjalani pemulihan dan belajar berjalan kembali, mendoakan papa yang harus masuk ICU selama hampir sebulan lamanya, dan merelakan kepergian papa.
Keluarga kecil kami sangat dekat dengan almarhum papa, karena kami masih tinggal serumah sejak kami menikah, punya anak pertama, dan punya anak kedua di masa COVID lockdown. Ketika kami mulai mengetahui penyakit papa, waktu itu suami saya mulai tambah semangat diajak teman-teman cowok komunitas kami ikut program perubahan pola pikir makan yang berjudul Eating Reorder. Program nya terlihat simpel dan murmer, biaya pendaftarannya waktu itu hanya seratus ribu rupiah, dan sisanya sukarela. Program makannya juga sangat sederhana, suami saya makan makanan yang bisa dimasak sendiri di rumah. Saya sangat kagum melihat perubahan suami saya yang tahu-tahu jadi langsing di beberapa minggu pertama.
Sebulan setelah suami saya ikut, saya ikut program yang sama. Karena waktu itu saya tidak pernah masak, biar tambah mudah, saya ajak pembantu saya ikutan programnya, jadi dia sekalian memasak untuk kami bertiga. Singkat cerita, kami bertiga berhasil menjadi lebih sehat. Bukan cuman masalah langsing, tapi saya kagum bahwa ternyata perubahan cara pikir saya tentang makan membuat tubuh saya terasa lebih enak, dan juga otomatis badan saya lebih enteng, karena saya belajar makan yang saya butuhkan, bukan hanya sekedar yang saya inginkan. Pembantu saya juga sempat merasakannya, dia bilang beratnya kembali seperti ketika dia masih SMA.
Singkat cerita, kakak saya ikutan, dan juga suaminya. Sharing kami ke teman-teman yang melihat perubahan kami juga membuat beberapa dari mereka ikut dan merasakan keajaiban tubuh mereka masing-masing. Salah satunya adalah teman saya yang kali ini menjadi coach saya. Titik baliknya ketika ikut juga agak mirip saya, ketika mengetahui bahwa papanya sakit, dan tidak lama kemudian meninggal. Salah seorang tante saya yang diluar kota yang jarang bertemu kami juga ikut. Dan sampai tahun lalu saya mendengar kalau tante jauh saya, ipar dari Om saya (adik mama) juga lambat laun mendengar cerita kami dan bahkan sekarang menjadi assistant coach program nya.
Bagi keluarga saya, belajar perubahan cara pikir dan pola makan melalui Eating Reorder ini adalah bukti nyata dari firman Tuhan di Kisah Para Rasul 16:31 “Jawab mereka: ”Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”“
Setelah mengikuti program ini, kami berdua bisa memaintain terus cara makan kami, hingga tiga tahun setelahnya (tahun lalu). Karena itu awal tahun ini kami memutuskan untuk sekali lagi mengulangi ikut program ini, seperti retreat, sejenak merenungkan kembali, menggali motivasi, dan bertobat dari kebiasaan-kebiasaan makan kami yang kurang baik untuk tubuh kami.
Saya percaya kalau penyakit itu tidak diturunkan, namun kebiasaan cara makanlah yang diturunkan. Sejak ikut program ini, setiap kali anak-anak minta snack, saya meminta mereka memakan satu buah dulu, biasanya setelah itu mereka sudah tidak butuh snack lagi, atau setidaknya snack nya semakin sedikit. Saya juga masih sering sekali jatuh, namun saya ingin mewariskan kebiasaan dan cara pikir ini untuk anak-anak kami, sehingga mereka bisa mengikutinya di masa depan dengan lebih mudah dan terbiasa. Saya percaya, dan terus berdoa, bahwa ketika saya selamat, seisi rumah pun diselamatkan. (LGA)
No responses yet