Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Selasa, 14 Juli 2026
Yes 7:1-9
Mzm 48:2-8
Mat 11:20-24
Sadar Diri
Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: – Mat 11:20
Pernahkah kita merasa telah menolong seseorang dengan sepenuh hati, namun justru dikhianati, bahkan ditusuk dari belakang? Rasa sakit itu tentu sangat dalam. Tentu melalui pengalaman seperti itu, kita dapat sedikit memahami perasaan Kristus terhadap kita. Ia telah menebus kita dengan kasih yang sempurna, namun berapa kali kita justru menempatkan diri seolah- olah sebagai tuhan dalam hidup kita sendiri? Ketika kita menolak untuk mengampuni orang lain, atau bahkan tidak mau memaafkan diri sendiri, kita seakan mengambil alih peran Tuhan. Kita bertindak seperti hamba yang mengkhianati tuannya, padahal sang tuan telah begitu banyak berbuat baik kepadanya.
Kitab Injil mengingatkan bahwa dosa yang paling berat adalah menghujat Roh Kudus, yakni ketika seseorang telah mengenal kebenaran Allah, namun dengan sadar menolaknya dan tetap memilih mengikuti kehendaknya sendiri. Sikap ini membuat hati menjadi keras dan menjauh dari rahmat Tuhan.
Namun, dalam kesabaran dan kasih-Nya, Tuhan Yesus tidak pernah berhenti memberi kita kesempatan untuk bertobat. Selama kita masih diberi kehidupan, tangan-Nya selalu terbuka untuk menerima kita kembali. Sayangnya, ketika kita jatuh dalam dosa, kita sering membiarkan rasa bersalah dan bisikan jahat menguasai hati, sehingga kita merasa tidak layak diampuni.
Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju, itu adalah janji Tuhan bagi mereka yang mau bertobat dan menerima Kristus dalam hidup-Nya. Yang Tuhan kehendaki adalah hati yang mau merendah, taat pada firman-Nya, dan membiarkan Kristus benar-benar merajai hidup kita. (FY).
Sudahkah kita sungguh bertobat dan menempatkan Tuhan sebagai yang utama dalam hidup kita?
No responses yet