Renungan Katolik “Bahasa Kasih”
Selasa, 15 September 2026
Pw SP Maria Berdukacita
Ibr 5:7-9
Mzm 31:2-6,15-16,20
Yoh 19:25-27 / Luk 2:33-35
Keteguhan Iman
… dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang. – Luk 2:35
Dalam Injil hari ini, kita mendengar nubuat Simeon kepada Bunda Maria: “Suatu pedang akan menembus jiwamu.” Kata-kata ini menggambarkan penderitaan batin yang sangat dalam yang kelak dialami Maria. Ia bukan hanya sosok istimewa dalam rencana keselamatan, tetapi juga seorang ibu yang memiliki hati dan perasaan seperti kita.
Maria telah dipersiapkan secara khusus oleh Allah untuk menghadapi penderitaan itu. Ia menyaksikan sendiri perjalanan sengsara Yesus Kristus berupa siksaan, dera, dan penderitaan yang begitu berat. Bagi seorang ibu, melihat anaknya menderita sedemikian rupa tentu merupakan luka yang tak terlukiskan. Ketabahan Maria sungguh melampaui pemahaman manusia. Kita mungkin bertanya dalam hati: apakah kita mampu bertahan jika mengalami hal serupa? Jawabannya mungkin tidak. Namun, kita diingatkan bahwa setiap orang dipersiapkan Tuhan sesuai dengan panggilannya. Tuhan tidak akan membiarkan kita menghadapi pencobaan di luar kemampuan kita. Ia selalu menyediakan kekuatan dan rahmat yang kita perlukan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun menghadapi berbagai kesulitan baik dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, atau pun relasi. Kadang kita merasa lemah, terpuruk, dan kehilangan harapan. Namun, seperti Maria yang tetap setia, kita pun diajak untuk berjalan bersama Tuhan dalam setiap situasi. Marilah kita tidak takut menghadapi penderitaan. Bawalah setiap beban kepada Tuhan, dan percayalah bahwa Ia menyertai kita. Dalam kesetiaan itu, kita akan merasakan penghiburan dan kekuatan dari-Nya.
Peristiwa dukacita Maria yang kita peringati hari ini mengajarkan kita untuk tetap setia dalam iman, mempercayakan hidup kepada penyelenggaraan Allah, dan yakin bahwa dalam segala hal, rencana-Nya selalu yang terbaik bagi kita meski kadang tidak sesuai dengan rencana dan juga yang kita harapkan. (In).
Apakah saya sungguh menyadari bahwa setiap tantangan dan kesulitan yang saya alami merupakan jalan menuju keselamatan Allah?
No responses yet