Renungan Katolik “Bahasa Kasih”

Kamis, 29 Oktober 2026

Ef 6:10-20 

Mzm 144:1-2,9-10

Luk 13:31-35

“Tak Pernah Lelah”

“… Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” – Luk 13:34

Begitu sulitnya mempertobatkan orang-orang di Yerusalem. Banyak nabi yang diutus bagi mereka, namun semua berakhir dengan penolakan dan pembunuhan kepada nabi-nabi itu. Namun Allah tidak menyerah. Ia mencurahkan kasih-Nya yang luar biasa dengan mengutus Putera-Nya ke dunia supaya mereka memperoleh keselamatan. Sayangnya, orang- orang Yerusalem tersebut tetap menolak Putera-Nya. 

Dalam bacaan Injil hari ini, kesedihan hati Yesus begitu terasa karena penolakan itu. Yang Ia inginkan hanyalah supaya mereka mau bertobat, namun mereka tetap kukuh bertahan pada keinginan hidup dalam kegelapan dosa.

Demikian pun pada masa saat ini. Jika saya flashback ke masa lalu, sering kali saya mencoba menjauh dari-Nya, namun dengan cara-Nya Ia membawa saya kembali. Ada kalanya saya merasa lelah dengan kesalahan dan perbuatan dosa yang terus saya ulangi, dengan kegagalan untuk tetap setia, serta keinginan bertahan pada kenyamanan duniawi yang akhirnya mengalihkan fokus utama saya dari Tuhan. Tuhan tak lagi menjadi nomor satu dalam hidup saya, namun tergeser menjadi nomor kesekian.

Saya sadar, meskipun saya lelah, Ia tak pernah lelah menarik saya kembali kepada-Nya. Kasih-Nya seperti induk ayam yang selalu mengembangkan sayap, siap mendekap meski sang anak seringkali berlari menjauh. Ia tidak melihat seberapa sering saya jatuh, melainkan seberapa besar kerinduan saya untuk berjalan pulang.

Hari ini, mari kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, seberapa sering kita mengeraskan hati saat Ia memanggil? Jangan biarkan kelelahan kita karena dosa membuat kita menutup diri dari dekapan-Nya yang hangat. Tuhan tidak pernah lelah menunggu kita, maka janganlah kita lelah untuk kembali datang kepada-Nya. (Vn).

Dalam kesibukan dan kenyamanan duniawi saat ini, apakah saya masih peka mendengar suara Tuhan yang memanggil untuk pulang kembali ke dalam dekapan-Nya?

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *