Sudah hampir satu bulan lebih, saya Adorasi setiap pulang kerja. Puji Tuhan, kantor dekat dengan St Bernadette di Glendalough yang punya perpetual Adoration. Kalau biasanya Sakramen Mahakudus ditempatkan di Gereja, sudah setidaknya semingguan ini mereka mengembalikan Sakramen Mahakudus ke Kapel Adorasi. Ini karena Gereja sedang direnovasi.

Jujur, menginjakkan kaki di Kapel Adorasi membawa pikiran saya kembali ke sekitar 6 tahun yang lalu atau saat Sakramen Mahakudus masih ditahtakan di Kapel Adorasi. Saking cintanya, saya sampai menjadwalkan diri berjaga-jaga di Kapel seminggu dua kali. Padahal pekerjaan waktu itu masih di daerah Canning Vale, hampir 40 menit lebih ke daerah Glendalough.

Kebiasaan itu saya jalankan selama 3 bulan sampai waktu itu kantor begitu sibuk dan short staff menjelang audit. Perlahan tapi pasti, Adorasi saya mulai bolong. Godaan malas itu semakin kuat. Di dalam hati ini seolah ada yang berbisik, “Tuhan bisa ditemukan di mana saja”. Akhirnya, kebiasaan Adorasi itu berhenti total.

Cinta dan kerinduan saya akan Kristus kalah dengan kesibukan sehari-hari. Dari yang sebelumnya rajin bolak balik Canning Vale-Glendalough menjadi “Sorry ya Tuhan, hari ini sibuk”. Saya tahu Tuhan pasti mengerti dan menunggu, tapi ketika rasa cinta itu menjadi alasan dan permintaan maaf berulang rasa rasanya ada sesuatu yang salah.

Ketika diterima bekerja di kantor yang dekat dengan Glendalough pun, rutinitas saya Adorasi belum kembali, sampai sebulan yang lalu.

21 September 2026.

Di weekend itu, entah kenapa ada beberapa sahabat yang chat atau telepon butuh bantuan doa. Entah kenapa pula waktu itu jawaban saya adalah “Aku bawa ke dalam Adorasi yah”. Ketika kembali Adorasi untuk pertama kalinya di St Bernadette, hati saya bergetar bahkan ketika memandang monstran. Hadirat Tuhan sungguh hadir membuat air mata ini tidak tertahankan. Saya yang biasanya berdoa sambil berlutut, hari itu berdoa sambil membungkukkan badan menyentuh lantai. Tuhan ingatkan kembali rasa cinta yang sama di hadapan Sakramen Mahakudus 6 tahun yang lalu. Saya bersyukur sampai hari ini saya masih terus datang dalam kondisi apapun. Ada satu atau dua hari bolong, tapi dengan bantuan Roh Kudus, saya cepat-cepat kembali ke rutinitas harian ini.

Dari pengalaman ini, saya belajar dua hal. Pertama, untuk memiliki setidaknya satu rutinitas iman yang jangan sampai lekang dan kedua, mencari Tuhan sekalipun dalam kesibukan terberat sekalipun. Godaan untuk lengah dan mencari alasan itu akan selalu mengintai, tapi Tuhan selalu melihat niat hati dan usaha yang tulus. Jangan menyerah dan terus bertumbuh dalam kasih Kristus!

Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati (Yer 29:13) (IVO)

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *